Malam minggu itu, Rendi merasa dunia akhirnya berpihak padanya. Setelah tiga bulan pacaran dengan Siska—yang menurutnya “lebih cantik dari pemeran sinetron jam tujuh”—ia merasa ini saat yang tepat untuk naik level hubungan.
Lokasinya sudah dipilih matang: taman kecil di ujung kampung. Sepi, romantis (menurut Rendi), dan cukup gelap buat menutupi wajah grogi.
“Dis, kamu percaya nggak kalau cinta itu… ya… kayak angin?” kata Rendi, mencoba puitis.
Siska menatapnya datar.
“Enggak. Soalnya kalau angin lewat, bau got ikut kebawa.”
Rendi menarik napas. Gagal puitis tahap satu. Tapi ia tak menyerah.
Mereka duduk berdua di bangku kayu yang sedikit miring. Lampu taman redup. Suasana hening. Hanya suara jangkrik dan sesekali motor lewat sambil knalpotnya lebih berisik dari hati Rendi.
“Dis…” Rendi mulai lagi, kali ini lebih pelan.
“Iya?”
“Kamu… bahagia kan sama aku?”
Siska tersenyum kecil.
“Iya, meskipun kamu agak aneh.”
Jawaban itu cukup buat Rendi. Jantungnya langsung sprint kayak atlet olimpiade. Ia mendekat sedikit demi sedikit. Siska tidak menjauh. Ini sinyal bagus. Sangat bagus.
Dalam hati, Rendi sudah membayangkan adegan slow motion. Angin berhembus. Musik romantis. Daun-daun berguguran. Bahkan ia merasa dirinya seperti aktor film.
Wajah mereka semakin dekat.
Semakin dekat.
Semakin…
“HEM!”
Suara berat itu datang tiba-tiba dari belakang.
Rendi kaget setengah mati sampai hampir jatuh dari bangku. Siska refleks mundur dua meter seperti lagi lomba lompat jauh.
Mereka menoleh.
Di sana berdiri Pak RT, lengkap dengan sarung dan senter yang sinarnya langsung mengenai muka Rendi seperti interogasi polisi.
“Ngapain kalian di sini malam-malam?” tanya Pak RT, nada suaranya seperti detektor dosa.
Rendi panik. Otaknya mendadak kosong. Semua kata puitis hilang, diganti kata-kata random.
“Ini… Pak… saya lagi… eh… ngajarin Siska… biologi…”
Siska melotot.
“Biologi apaan?!”
Pak RT menyipitkan mata.
“Biologi ya? Materi apa?”
Rendi menelan ludah.
“Eee… tentang… sistem… pernapasan…”
Pak RT mengangguk pelan, lalu berkata santai:
“Oh, pernapasan? Kok tadi mukanya udah deket-deket banget, mau napas buatan ya?”
Rendi ingin menghilang dari bumi saat itu juga.
Siska menahan tawa, tapi gagal. Ia malah cekikikan.
Pak RT melanjutkan, “Udah, udah. Pulang sana. Kalau mau belajar, besok siang aja. Jangan belajar di tempat gelap, nanti yang dipelajari malah… yang enggak-enggak.”
Rendi berdiri cepat.
“Iya Pak! Siap Pak! Terima kasih Pak!”
Siska masih ketawa sambil jalan pulang.
Sepanjang perjalanan, Rendi diam. Malu, campur apes, campur kesel.
Siska akhirnya berkata,
“Kamu tadi lucu banget.”
“Lucu gimana? Itu memalukan!”
“Iya, tapi lucu. Masa ngajak ciuman bilangnya belajar sistem pernapasan.”
Rendi menghela napas panjang.
“Ya habis gimana lagi… otak aku blank.”
Siska tersenyum jahil.
“Ya udah, lain kali kalau mau lanjut ‘pelajaran’, bilang aja. Jangan pakai alasan IPA lagi.”
Rendi langsung berhenti jalan.
“Lain kali? Jadi masih ada kesempatan?”
Siska berjalan duluan, menoleh sambil tersenyum.
“Kalau nggak kepergok Pak RT lagi.”
Rendi tersenyum lebar.
Malam itu ia memang apes.
Tapi setidaknya… masih ada harapan.
Dan sejak saat itu, Rendi resmi trauma belajar biologi di taman.
.png)
0 Komentar